Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Mei 2010

Terimakasih Fina.... :)

Fina ketika kemaren loe bilang gue“ kurang beriman” sebenarnya gue dah pengen marah . Untungnya urat marah gue mulai kendor sekendor badan gue hehehe . Gimana gak marah wong gue pengin dapat perhatian dengan sedikit keluhan loe langsung nuduh gue begitu. Kala itu gue jadi mikir buat apa selama ini gue beribadah, bertasbih (biarpun gak sering) dan lain-lain tapi akhir gue dituduh juga seperti itu. Eit...stop jangan defense dulu Fin..... tenang... gue sekarang dah gak esmosi kok, dah kalem lagi.

Fina, sepulang reunian kemaren itu aku merenung panjang kembali. Gue jadi ingat loe adalah satu-satunya teman kuliah seangkatan yang paling optimis sejak dulu. Gue ingat gimana loe dengan berani maju ke depan ketika dosen menyuruh menjelaskan suatu konsep yang sedang kita pelajari. Saat itu boleh dikata gak ada yang berani seperti loe karena kita masih anak baru harus maju ke depan disaksikan kurang lebih seratus lima puluh orang yang mengikuti kuliah umum yang tentu saja diikuti kakak-kakak senior. Pokoknya ente top markotop deh selalu penuh semangat.

Gue juga ingat loe termasuk salah satu anggota Menwa di kampus. Sebagai cewek manis berubah jadi begitu gagah dengan uniform yang loe kenakan ketika ada acara-acara kampus. Hehehe Fina ternyata loe memang tak banyak berubah walaupun sudah punya dua buntut remaja, tetap penuh enthusiastic . Yang berubah hanyalah body loe lebih “berbobot” :)

Balik ke kasus gue itu semenjak memutuskan berhenti “bekerja” memang wawasan gue makin lama makin menyempit, sehingga sering memandang bahwa akulah orang termalang yang penuh penderitaan .. hiks. Tidak punya karir cemerlang dan tak banyak teman... hiks lagi. Terkadang lebih parah lagi bila gue mulai menyesali keputusan mengapa gue dulu berhenti kerja. Kalau gak tentu jabatanku dah tinggi sekurang-kurang kepala divisi di satu perusahaan, punya banyak wang dan gak kere kayak sekarang. Banyak lagi pikbur (pikiran buruk ) lain bersileweran di kepala tapi gue malu nulisnya Fin.

Tapi untungnya sih kejadian kayak gini gak tiap hari Fin. Kalau tiap hari bisa-bisa gue jadi klien tetap sobat-sobat psikolog karena sudah dikategoriin menderita gangguan depresi. Kalau liat atau dengar penderitaan orang lain, gue pasti tersadar dan berucap “untung gue gak kayak gitu ya”.

Kalau dibilang gak beriman rasanya gak juga sih Fina (ngeles lagi hehehe) . Istilah memiliki kadar keimanan yang tidak konsisten kayaknya lebih pas Fin. Bila hari ini hati senang semua terlihat cemerlang apa aja yang akan dikerjakan dengan penuh gairah dan perasaan dominan menyelimuti gue adalah bahwa gue ini orang paling beruntung se dunia. Gimana gak beruntung dengan penampilan pas-pasan mendapatkan suami berwajah ganteng, baik hati dan tentu saja gak banyak tingkah. Tapi hari lain kalau suasana hati lagi buruk semuanya berabe. Ibu sepuh rajin kerja gue kesel , suami kebanyakan tidur gue sebel dan anak gak mau disuruh gue pasti tambah ngeyel.

Fina, gue kagum sama loe dan semua teman-teman yang konsisten di jalur masing-masing, tidak seperti gue sering berubah-ubah sehingga akhirnya malah jalan di tempat. Nasehat loe benar banget adanya . Gue harus bersikap rasional dan mulai membuka mata-telinga untuk menambah wawasan pergaulan sehingga tidak picik lagi memandang dunia ini. Orang bersemangat seperti loe itu benar-benar dibutuhkan saat ini ditengah gejala keputusasaan dan kelemahan keimanan yang menyeruak dimana-mana. Oke Fina gue benar- benar angkat jempol dan InsyaAllah akan menjalankan nasehat itu mulai dari sekarang . Sekali lagi tararengkieuyu Fina.

Inilah gunanya persahabatan untuk saling mengingatkan bukan saling menjatuhkan. Gue beruntung sekali punya teman-teman seperti loe Fin. Teriring salam sayang untuk Ai, Lusi, Ita,Nita, Rinna, Yanti, Liana, Aniek dan Adek. Semoga suatu hari kita berkumpul lagi hepi-hepi seperti ketika kita masih muda dulu, sejenak lupa usia dan masalah. Khusus Lusi semoga tulisan gue kali ini gak berat lagi ...:))

Tangerang, 9 Mei 2010

Salah Kaprah Tentang Konsep Remaja

Bulu-bulu tipis mulai tumbuh menghiasi bibir atasnya yang mungil, bintik-bintik kecil kemerahan juga tampak di jidatnya dan beberapa hari belakangan suaranya terdengar aneh, membesar dan tercekik-cekik. Ah putraku mulai remaja batinku. Ya tak lama lagi usianya genap 14 tahun, semua pertanda awal kedewasaan seorang anak lelaki mulai bermunculan satu persatu. Aku telah memberitahu padanya bahwa sebentar lagi dia menjadi manusia dewasa yang harus bertanggung jawab terhadap diri dan semua perilakunya dihadapan Allah. Aku menasehatinya agar berhati-hati menjaga sikap dan juga ‘kelaminnya’. Aneh mungkin anda berpikir mengapa saya menekankan kelaminnya. Saya tidak ingin dia terlibat pergaulan bebas yang akan merugikan dirinya juga lawan jenisnya. Tentu saja sebelum menasehati hal yang satu ini saya menanyakan dulu apakah dia telah mempelajari mengenai sistem reproduksi makhluk hidup.

Sudah lama aku berpikir mengapa banyak sekali terjadi kenakalan remaja akhir-akhir ini, seperti perkelahian, kejahatan seksual, pergaulan bebas sampai kejahatan narkoba dan lain sebagainya. Dan kejadian itu merata hampir di setiap pelosok daerah. Yang menjadi uneg-uneg lain di kepala juga adalah seolah-olah terjadi pembiaran dan pemakluman dengan ungkapan seperti “ya biasalah kenakalan remaja” . Apakah masalah ini terjadi karena pengertian bahwa remaja adalah masa abu-abu, anak-anak bukan dewasapun bukan sehingga ada celah untuk “pemakluman atau keserbabolehan”dari lingkungan bila mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran dari norma-norma yang berlaku.

Setelah aku ‘ulik-ulik’ dan pikir-pikir sepertinya pada jaman dulu sebelum media masa memasuki tiap ranah rumahtangga, masyarakat mendidik anak-anak lebih berdasarkan konsep keagamaan (maksudnya Islam, karena aku beragama Islam), bukan berlandaskan pada teori perkembangan Barat . Sehingga di usia aku dan kakak-kakakku belasan tahun saja telah dipercaya pergi merantau ke kota yang sangat jauh dari daerah asal karena kami telah akil baligh dan dianggap sudah dewasa.

Dari beberapa sumber bacaan mari kita lihat di sini perbedaan antara pandangan Barat dan Islam tentang konsep remaja.

A. Remaja dalam Pandangan atau berdasarkan Pandangan Ilmuwan Barat

Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.

(http://id.cosmotopic.com/6631002193-tahap-perkembangan-manusia-menurut-elizabeth-b-hurlock )

Jadi menurut Hurlock ada masa diantara anak-anak dan dewasa yaitu remaja yang terjadi antara usia 11 tahun sampai 21 tahun, seperti terbaca di atas masa remaja itu sendiri dibagi lagi ke dalam tiga tahap pra remaja remaja awal dan remaja akhir. Monks, memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Sementara Stanley Hall usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Menurut ahli-ahli dunia Barat ini remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Stanley Hall menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress), sedangkan Erickson menyatakan masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan barat ini , usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian. Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Masalah yang sering muncul antara lain perubahan fisik, sebagian tidak puas dengan kondisi fisik yang tidak sesuai ideal yang diinginkan sehingga menjadi tidak percaya diri bahkan menimbulkan prilaku buruk lain seperti depresi, merokok, perilaku makan maladaptiv, bahkan pemakaian narkoba dan prilaku seksual menyimpang dsb ( http://netsains.com/2009/04/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/)

B. Menurut pandangan Islam

Sementara dalam konsep agama (Islam) tidak dikenal masa peralihan antara anak-anak dan dewasa tersebut. Dari pencarian mengenai konsep ini aku menemukan satu situs yang membahasnya cukup detil dan aku cendrung setuju dengan konsep yang dipaparkan ini (lihat http://ratnaz.multiply.com/journal/item/120).

Berikut penjabarannya dengan beberapa tambahan dari pemikiranku sendiri. Dalam islam yang ada adalah masa bayi (infant) yang disebut ghairu mummayiz, masa kanak-kanak (kids) mummayiz dan masa dewasa (adult) atau akil baligh dalam hal ini, masa bayi atau ghairu mummayiz adalah masa dimana pada saat manusia sejak dilahirkan kedunia sampai berumur tujuh (0-7) tahun, sedangkan masa kanak-kanak atau masa mummayiz adalah masa dimana seorang manusia berada pada umur diatas tujuh tahun hingga berumur lima belas (>7-15) tahun yakni saat ia belum menginjak masa kedewasaan dan dewasa atau akil baligh atau baligh adalah pada saat manusia berusia diatas lima belas (>15) tahun atau atau pada saat mulai adanya tanda-tanda kedewasaan secara biologis (perubahan suara, tumbuh bulu-bulu halus di beberapa lokasi tubuh, mimpi basah khusus laki-laki atau menstruasi pada perempuan, dan beberapa ciri lain)

Tidak ada masa remaja, bahkan ada beberapa jumhur ulama yang mengatakan bahwa istilah ghairu mummayiz tidak ada, yang ada hanya mummayiz dan akil baligh. Mummayiz sendiri artinya adalah "Masa Persiapan Kedewasaan".

Yang bertugas mempersiapkan adalah tentu saja orangtua (dan pendidik/guru atau orang yang memelihara anak itu) yang dimana seorang anak harus dididik dan dipersiapkan untuk menghadapi konsekuensi yang diterima pada saat akil baligh.

Meliputi pendidikan memahami dan menjalankan kewajiban fardhu ain dan fardhu kifayah agar siap menghadapi dunia, selain ilmu pengetahuan dan adab, baik adab tehadap makhluq maupun Khaliq, pengetahuan, keterampilan, kesalehan, kebiasaan harian, keluhuran budi, fisik dan kesehatan, keimanan, emosi, kecerdasan, ibadah, sosial, akhlak, seks dan kekuatan mental untuk memenuhi tradisi yang dimulai dari Nabi Adam AS.

Memasuki Masa Akil Baligh (dewasa) yakni dimulai pada saat pubertas (tanda-tanda fisik muncul), manusia mulai hidup sebagai Khalifah Allah di bumi, mencari berkah-Nya, takut akan murka-Nya,merupakan salah satu fase terpenting kehidupan manusia, secara fisik, psikis, dan spiritual, ia dinyatakan siap memikul tanggung jawab sebagai mukallaf atau wajib beribadah.

Pengertian mukallaf sendiri adalah ism al-maf’ûl (obyek) dari kallafa–yukallifu–taklîfan. Kallafa sendiri adalah bentuk transitif dari kalifa. Jika dikatakan kallafahu taklîfan artinya amarahu bimâ fîhi masyaqqah (memerintahkan kepadanya sesuatu yang mengandung masyaqqah [kesulitan]). Artinya, taklîf adalah perintah yang mengandung kesulitan (masyaqqah). Dengan demikian, mukallaf secara bahasa adalah orang yang mendapat perintah yang mengandung kesulitan (masyaqqah). Lihat lebih rinci pada ( http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/14/mukallaf/ )

Saat ini banyak ditemui dalam masyarakat kasus-kasus orang tua yang berbuat hal-hal bodoh, bahkan pada jajaran terpelajar, semua itu tak lepas dari kurangnya pembinaan pada masa mummayiz di tambah dengan adanya istilah masa remaja yang seakan-akan memberikan "Permisif" selama 8-10 tahun untuk berbuat bebas. Masa remaja adalah masa peralihan antara kanak-kanak dan dewasa dimana seorang manusia pada saat itu sudah diperbolehkan melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang dan karena dianggap belum dewasa, masih dimaafkan dan ini berbahaya yang kemudian akhirnya berlanjut terbawa hingga dewasa menjadi karakter. Jadi dalam hal ini seperti asumsiku diatas telah terjadi salah kaprah dalam pengertian tentang masa remaja.


Seharusnya sebagai bangsa penganut agama Islam terbesar kita mulai bertanya pada diri masing-masing akankah kita begitu saja menerima konsep barat tanpa membandingkan dengan dasar ajaran sendiri yang lebih tegas dan bertanggung jawab? Atau sebaliknya kita hanya menggunakan pengertian dan ciri-ciri remaja yang diungkap ilmuwan barat itu hanya sekedar referensi tambahan agar kita lebih mudah mempraktekan dan mengembangkan pendidikan persiapan memasuki masa dewasa itu sendiri. Obrolan seorang ayah dengan putranya yang memasuki akil baligh pada blog ( http://edwin64.multiply.com/journal/item/3) menurutku bagus untuk dicontoh pada rumah tangga yang memiliki anak yang mulai menunjukan tanda-tanda akil baligh, tentu dengan modifikasi sesuai dengan kondisi anak masing-masing. Sumber bacaan lain yang baik untuk dijadikan pedoman memasuki masa dewasa ada di http://blog.re.or.id/ilmu-yang-wajib-diketahui-mukallaf.htm. Tulisan lain yang rasanya cukup informatif dan bermamfaat menghadapi masa dewasa bisa di baca di http://myquran.com/forum/archive/index.php/t-2232.html yang berjudul “Menyiapkan Calon 'Khalifah' di Bumi”. Semoga bermamfaat.

Tangerang, 4 Mei 2010

Rabu, 14 April 2010

Sedikit Pemahaman Untuk Para Lansia Kita

Punggung melengkung, badan kecil menciut dan sekujur tubuh terlihat jaringan vena biru nyata dibalut kulit tipis keriput. Yang tak hilang adalah raut wajah manis dan garis-garis senyum di bibirnya. Dari tadi bolak – balik dari ruang tengah ke arah dapur. Terus terang jantungku kadang berdegub lebih kencang takut kalau- kalau kakinya tersandung dan terjatuh. Terkadang jalannya mulai melayang condong ke kiri dan ke kanan. Tapi bila dilarang bekerja wah bisa mengambek dan masuk ke kamarnya dalam waktu yang lama. Tunggulah sampai dia keluar sendiri dari kamar dan lupa dengan masalah sebelumnya. Keadaan akan baik-baik saja bila aku dalam kondisi sehat, tapi bila kondisiku sedang drop bisa berabe karena si nenek tetap ingin mempertahankan ritual kerja dapurnya mulai sejak selesai subuh sementara aku ingin kembali tidur karena tubuhku lemas. Beliau selalu ingin melakukan segala sesuatu seperti ketika kami anak-anaknya masih muda; tatkala beliau sibuk menyiapkan segalanya sendiri, tapi usianya yang telah sangat lanjut itu tentu tak memungkinkan keinginannya itu terwujud.
Hidup bergabung dengan orang lanjut usia di kota besar dengan irama yang sangat berbeda dengan kehidupan masa lalu mereka terus terang penuh problema. Disatu sisi sebagai anak yang menyayangi aku sadar bahwa tingkah ibu lansia itu harus dihadapi dengan sikap sabar dan welas asih. Namun di sisi yang lain kondisi kesehatan dan permasalahan yang aku hadapi sehari-hari kadang membuat aku sering merasa kehabisan oksigen sehingga kurang sabar menghadapi tingkahpolah tersebut. Berbeda dengan kaedah umum dimana seorang nenek lansia akan bersikap manja dan tergantung pada pertolongan anggota keluarga lain, sebaliknya ibuku terlalu mandiri dan selalu ingin melayani orang tapi kekuatan fisiknya tentu tidak memungkinkan terus bekerja. Konflik timbul karena irama kehidupan aku sekeluarga yang agak santai jauh berbeda dengan situasi ibu dulu yang selalu sibuk mengurus keluarga besarnya.
Walaupun aku bersaudara cukup banyak tapi ibu lebih betah tinggal bersamaku mungkin karena aku anak perempuan dan hanya punya satu orang anak jadi beliau merasa tidak perlu menyesuaikan diri dengan banyak orang. Dengan kakak yang lain beliau merasa kurang cocok padahal dari segi fasilitas fisik jauh lebih memadai daripada di rumahku. Ada saja alasan beliau untuk tidak lama-lama di rumah kakak-kakakku. Sering alasan itu tidak bisa diterima akal sehatku karena hanya khayalannya belaka, seperti kamar yang ditempatinya akan dipakai oleh salah satu cucunya padahal jelas-jelas kamar itu dibangun khusus untuk beliau sedangkan cucunya telah punya kamar sendiri.
Bila tidak saling memahami tingkahlaku dan ungkapan-ungkapan lansia seperti itu bisa dipastikan sering akan terjadi percekcokan antar keluarga (antara kakak adik atau anak dan para mantu para lansia itu). Berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita teman-teman yang kebetulan juga tinggal bersama orang tua atau kakek-nenek lansia, aku pikir sudah saatnya kita lebih memahami dan melakukan perencanaan untuk menghadapi masa-masa tersebut. Perencanaan menghadapi masa itu perlu demi kebahagiaan lansia juga anggota keluarga lainnya.
Apalagi disinyalir jumlah lansia (di Indonesia khususnya) semakin banyak. Menurut Data Departemen Sosial diperkirakan tahun 2010 ini 23juta jiwa dan akan menjadi lebih 28 juta jiwa pada tahun 2020 (sumber: http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/jumlah-lansia-di-indonesia-16,5-juta-orang/)
Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus. (http://ilmupsikologi.wordpress.com/2009/12/11/psikologi-lansia/)
Menurut Erik H. Erikson dalam Theory of Psychosocial Development (Teori Perkembangan Psikososial), lanjut usia itu terletak pada tahap ke delapan perkembangan psikososial yang terjadi pada usia sekitar 60 atau 65 ke atas dimana dalam usia itu terjadi konflik antara Integritas dan Keputusasaan. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri (http://www.scribd.com/doc/17153789/erikeriksoi)
Integritas itu paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan ide-ide, serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah keputusasaan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan hidup menjelang kematian (http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/02/18/perkembangan-psikososial-masa-dewasa-akhir/).
Walaupun menurut data ada yang terlantar sebanyak 2,7 juta lansia kondisinya telantar dan rawan terlantar sebanyak 4,5 juta http://nasional.kompas.com/read/2009/10/19/09344610/Wow..Tahun.2020.Lansia.di.Indonesia.Akan.Capai.28.8.Juta) namun secara umum sampai saat ini kita orang Indonesia masih menghormati orang tua dan menjaga mereka di rumah anggota keluarga yang ada semisal anak atau cucu mereka.
Tapi terkadang kita kurang menyadari bahwa mereka juga masih ingin diakui eksistensinya dan masih ingin memiliki kebebasan secara fisik dan materi . Untuk itu sebaiknya sebelum kita mencapai lansia harus mempersiapkan diri baik materi ataupun kejiwaan. Materi tentu dari menyisihkan penghasilan sewaktu masih produktif serta menjaga kesehatan fisik sehingga bisa tetap aktif dan mandiri di masa lansia. Secara kejiwaan tentu segera menyadari dan meninggalkan sikap dan sifat-sifat buruk atau yang berlebihan ada pada diri. Misalnya melatih kesabaran, membuang obsesi yang sulit dicapai dan meningkatkan kualitas spiritualitas dengan mempelajari agama masing-masing lebih mendalam.
Sedangkan bagi kita yang masih memiliki orang tua lansia. Bila anggota keluarga berkemampuan ekonomi yang kuat sebaiknya lansia itu dibangunkan rumah yang menyatu atau berdekatan dengan salah satu/banyak anggota keluarga yang lain, sehingga mereka tetap merdeka dengan kemauannya karena berada di rumah sendiri tapi tetap dibawah pengawasan anggota keluarga yang berdekatan. Dengan kata lain masing-masing bebas dengan kebiasaannya. Untuk anggota keluarga lansia sering-seringlah mengunjungi mereka karena hubungan silatuhrahm itu pasti akan menggembirakan karena lansia merasa tetap mendapat perhatian lingkungannya.
Tip dan trik yang ditulis seorang blogger perempuan berikut ini rasanya juga cukup membantu lansia menikmati hidup yang bahagia.
Pertama, Sebelum bad mood datang, perhatikan apa kesenangan dan kebutuhannya, bisa juga menanyakan apa yang sangat diinginkan. Namun juga siap-siap berbesar hati jika telah berusaha atau sudah memenuhi kesenangan dan kebutuhannya, lansia seolah-olah tidak begitu butuh atau bahkan memenolak menerima sesuatu yang diminta tadi telah dihadirkan.
Kedua, cermat dalam mencerna apa yang sedang dibicarakannya, seringkali keinginan itu tak tersampaikan secara jelas, berputar-putar. Jadi ambil kata kucinya. Misalnya dalam ungkapan “Saya diundang ke keraton, sekarang di keraton ada pesta, semua abdi dalem diundang, akan banyak yang hadir dan ada buah anggur di sana”, berarti ini menandakan anggur adalah yang diinginkan. Tunggu dan lihat perubahannya ketika anggur itu sudah dihadirkan.
Ketiga, baik menciptakan kebersamaan dalam satu kesempatan, untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sendiri atau rasa terpinggirkan. Misalnya makan bersama, menemaninya pada saat akan tidur, membacakan ayat suci al-quran (bagi yang muslim) dan sebagainya. Ini untuk membangun rasa bahwa diri lansia (yang umumnya seperti merasa tak bisa lagi berarti) masih dianggap dan diperhatikan.
Keempat, fasilitasi lansia dalam sebuah komunitas atau tempat berkumpul dimana lansia dapat turut bergabung. Yang saya dapati adalah lansia terlihat tak seperti biasa, atau tiba-tiba seperti punya energi ketika dirinya mengetahui akan ada kegiatan dirumahnya atau mendapatkan undangan kumpulan;pengajian rutin yang diadakan tiap bulannya.
Kelima, hadirkan sesuatu yang bisa membuat lansia bercerita tentang pengalaman hidupnya. Ini bisa menjadi obat rindu dan cukup membahagiakannya. Ada cerita diperoleh tanpa sengaja. Waktu itu beliau mendekati lap top, karena terdengar oleh beliau lantunan ayat suci al-quran dari computer jinjing. Saat mendekat, Microsoft Work Word Processor baru saja diminimize, jadi terlihatlah oleh beliau wallpaper bergambar Ka’bah dan jamaah yang berjibun di sekitarnya. Beliau berkata “Tahun 2000 saya ke sana” dan seterusnya. Cerita beliau berlanjut dan cukup panjang. Soal pengumpulan ongkos, suami tercinta beliau, kejadian apa saja yang di alami di tanah suci, hingga muncul kisah yang mengesankan.
Taukah kau kawan, beliau hanya butuh didengar dan sedikit direspon untuk pengalamannya. Beliau pun tersenyum 12 jari dan tampak bahagia juga ketika melihat photo beliau di 2004 (yang tak dimiliki beliau) ada dalam picture document “Itu ketika saya masih muda, heeee…” kata beliau dengan senyum luasnya. Selain melalui photo, hal lain yang bisa menjadi alternatif adalah jalan-jalan ke tempat dimana dulu lansia berutinitas atau sekedar transit. Misalnya; pasar, stasiun. Lalu, bila memungkinkan bersama menaiki alat transportasi yang juga sering ia gunakan dulu; kereta api, becak, andong dan sebagainya
Sepertinya, hal-hal seperti inilah yang baik untuk sering di munculkan bagi para lansia. Membuka memori soal pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dalam hidupnya. Sebaliknya, jauhkan beliau dari sesuatu yang bisa menghidupkan ingatan buruknya. Misalnya perlakuan buruk atau betapa tak bertanggungjawabnya orang lain terhadap dirinya.
Syahdan, hal-hal tersebut seperti memberikan kepuasan, energi baru dan membebaskan tekanan rasa yang dimiliki beliau. Sedangkan peristiwa yang sangat buruk terjadi berlulang-ulang di masa lalunya dapat seketika menganggu psikologisnya, tentu juga berimbas kepada laku.
Kawan, tampak olehku bahwa kebutuhan bereksistensi juga masih ada dalam diri lansia, meskipun hanya melalui kisah nyata masa lalu yang diperdengarkan pada kita (Handayaningrum http://perempuannya.wordpress.com)

Sekelumit bahasanku tentang lansia berdasarkan pengalaman pribadi dan terimakasih kepada narasumber yang telah memperkaya pengetahuanku. Semoga ada mamfaatnya.

Tangerang, 13 April 2010

Kamis, 25 Februari 2010

Komunikasi Yang BerEmpati




















deboer.outbound@yahoo.com

“Kau bisa pergi ke Jogja hari Sabtu depan untuk acara lamaran si Dudi kan Zal?, masalahnya Dudi cuman libur hari itu.” Kalimat yang diucapkan seorang kakak tertua kepada adik laki-lakinya ketika dia menemui adiknya. Adiknya terdiam sebentar dan kemudian dengan tergagap Zal menjawab: “o o i ya...kalau maag saya ngak kambuh kak”.

Dua hari kemudian terjadi perbincangan antara si adik yang dipanggil Zal itu dengan sepupunya Rey.

“Rey kau diminta kakak gak pergi ke Jogja?”. “Iya, Zal kemaren kakak telpon saya, sebenarnya saya bingung mau jawab apa .. habisnya kakak tiba-tiba nelpon dan tanpa prolog langsung nembak gitu”. “ Nah betul Rey masalahmu sama saja denganku, selama ini si Dudi yang mau ngelamar pacarnya itu gak pernah datang ke rumah apalagi menanyakan kesiapan kita untuk menemaninya, tau-tau mamanya sudah datang dan menentukan hari pelaksanaannya dan kita seolah-olah harus langsung setuju dengan jadwal mereka!?” Zal menimpali sepupunya sambil geleng-geleng kepala. Sejenak kemudian Rey mengungkapkan keluhannya :“Saya sepertinya gak bisa pergi Zal, sudah jaraknya lumayan jauh dan tiga hari pula, keuangan dan kesehatan sepertinya tak mengijinkan saya pergi ..... sayang aja Dudi gak berusaha mengerti keadaan kita masak untuk acara sepenting itu gak ada komunikasi dan kompromi dulu dengan kita apalagi sebenarnya kita ini kan paman- pamannya yang tertua”. Sambil menghela nafas dalam Zal menjawab :”Betul kau Rey itu pula keberatanku yang utama, kau kan tahu hari Sabtu aku harus bayar tukang jahit konveksiku, si Dudi meminta kita pergi sesuai kepentingan dia aja... dia yang mau melamar saja gak mau merugikan waktunya barang sedikit, sementara kita diminta menemani tanpa tanya apakah waktu yang ditentukannya itu sesuai untuk kita”.


Masalah komunikasi seperti yang tersirat pada dialog-dialog di atas pasti sering terjadi dikalangan masyarakat saat ini. Mulai dari lingkup keluarga kecil sampai pada komunitas yang menjadi panutan banyak orang. Sering terjadi pertengkaran besar hanya karena masalah komunikasi yang tak berimbang atau sejalan. Belakangan kita sering menonton di televisi para anggota DPR berbicara “ngotot” berdasarkan kepentingan partai masing-masing. Ujung-ujungnya tak ada kesepahaman untuk kebaikan bersama apalagi untuk kepentingan rakyat jelata.


Dalam kasus dialog di atas akhirnya kedua orang paman memutuskan tidak jadi pergi menemani ponakannya dalam acara peminangan karena si ponakan tak memahami perasaan paman-pamannya. Alangkah sayangnya hanya karena ponakan tidak mencoba memahami perasaan dan keadaan pamannya dia gagal menghadirkan mereka di acara yang mestinya sangat bermakna baginya. Di sini terlihat tujuan Dudi dan ibunya berkomunikasi dengan paman-pamanya tidak tercapai.


Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut. (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).


Bagaimana agar komunikasi bisa ditafsirkan sama oleh penerima pesan? Disini perlu suatu ketrampilan yang bisa dilatih dari semenjak usia dini, yaitu melalui kemampuan berempati.

Empati (dari Bahasa Yunani yang berarti "ketertarikan fisik") didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya, seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. Empati sering dianggap sebagai semacam resonansi perasaan. ( Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Resonansi secara fisika berarti ikut bergetarnya suatu benda karena persamaan frekuensi. Dengan empati, seseorang akan membuat frekuensi perasaan dalam dirinya sama dengan frekuensi perasaaan yang dirasakan orang lain. Sehingga ia turut bergetar, turut memahami, sekaligus merasakan apa yang dirasakan orang lain. Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya, seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. (Empati: Sebuah Resonansi dari Perasaan, Dhamas, 24 Oktober 2009, http://www.kompasiana.com).


Pada kasus Dudi dan ibunya, sebaiknya sebelum memutuskan rencana meminang calon mereka datang dan memberitahu paman-pamannya (bila memang ingin melibatkan mereka) serta menanyakan kapan waktu yang tepat bagi mereka semua agar acara yang digagas berlangsung sukses. Dudi dan ibunya seharusnya mencoba membayangkan bila keadaan terbalik mereka berada pada posisi paman- paman tersebut kemudian diundang tanpa diskusi sebelumnya apa jadinya?




Komunikasi yang berempati ini bisa diajarkan pada anak-anak pada usia dini dan terus dilanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Misalnya seorang anak TK akan mencubit temannya, coba pegang tangannya dengan lembut dan ucapkan “jangan cubit temannya ya sayang, coba cubit tangan dedek dulu....kalau sakit berarti ntar temannya juga sakit.....”. Pada anak mulai remaja kita bisa mengajarkan mereka berpikir dulu sebelum melontarkan kata-kata kasar mengenai tampilan fisik teman-temannya. Suruh mereka membayangkan apa perasaannya bila dia yang diejek seperti itu. Untuk yang lebih dewasa, sebaiknya mereka diajak dalam diskusi-diskusi acara keluarga dan melihat keseharian saudara-saudara jauh mereka. Para mahasiswa bisa ditingkatkan ketrampilan komunikasi yang berempati dengan program-program yang langsung berhubungan dengan kehidupan rakyat yang sebenarnya jadi tidak terpaku pada pelajaran teoritis atau teks book semata. Barangkali seperti program KKN (Kuliah Kerja Nyata) jaman dulu tapi yang lebih membumi.


Sebenarnya masih banyak contoh kasus yang lain dalam keseharian yang merupakan akibat kurangnya ketrampilan komunikasi yang berempati ini, namun hanya sekelumit contoh di atas yang bisa saya tuangkan saat ini. Inipun mungkin tidak atau kurang tepat tak lain adalah karena kekurangpahaman saya semata. Mudah-mudahan teman-teman atau senior yang lebih pakar akan memberi masukan ilmu yang lebih baik pada saya.


Hanya kepada Engkau ya Rabb aku harapkan ilmu dan hikmah bermamfaat serta rezki yang berkah, amiin.


Tangerang, 25 Februari 2010